Friday, May 5, 2017

Tips menjadi pekerja freelance


Profesi freelance sudah ada sejak dulu di Indonesia. Hanya beda istilah. Orang tua kita menyebutnya kerja serabutan. Statusnya memang dipandang sebelah mata karena kurang mengangkat derajat sosial. Namun, seiring dengan meluasnya penggunaan internet, kini profesi freelance mulai diakui dan digandrungi.

Jenis pekerjaan freelance yang bisa digarap juga kian meluas hingga melebar ke beberapa sektor formal, meski sektor informal tetap yang terbanyak. Misalnya, redaksi, editor, penerjemah, desainer grafis, programer komputer, dan konsultan. Syarat agar kamu bisa menjadi seorang freelancer juga tidak sulit. Asalkan kamu punya keahlian dan waktu.

Nah, sebelum kamu memutuskan meniti karier melalui jalur freelance atau karyawan, tidak ada salahnya jika kamu memerhatikan perbedaan kedua jenis profesi itu. Apa untung dan ruginya jika kamu jadi freelancer atau karyawan? Yuk disimak saja paparannya!

1. Penghasilan Freelance Tidak Tetap, sedangkan Penghasilan Karyawan Tetap

Penghasilan yang diterima freelance tidak tetap, sedangkan penghasilan yang diterima karyawan adalah tetap per bulan
Freelancer part-time bisa meraup penghasilan 2–3 kali lebih tinggi dari standar gaji karyawan, tapi bisa juga sebaliknya. Sebab, penghasilannya tidak tetap. Selain itu, kalo kamu enggak kerja maka upahmu bisa dipotong. Berbeda dengan karyawan. Seorang karyawan akan dibayar setiap bulan dengan gaji tetap. Lalu, ditambah tunjangan dan bonus.

2. Prospek Freelancer Part-Time Relatif Kurang Aman, sedangkan Prospek Karyawan Sudah Terjamin dalam Kontrak Jangka Panjang

Prospek freelancer part-time bisa dibilang relatif kurang aman, sedangkan prospek karyawan sudah terjamin
Prospek freelancer part-time bisa dibilang relatif kurang aman. Sebab, pekerjaan mereka bisa selesai dalam jangka pendek. Kalo kamu kerjanya enggak cekatan, kurang-kurangnya kamu malah lebih banyak nganggur. Adapun prosepek karyawan, pekerjaannya sudah terjamin dalam kontrak jangka panjang dan jenjang kariernya juga bertingkat.

3. Freelancer Tidak Terikat Jam Kerja, sedangkan Karyawan Bekerja Sesuai Aturan Perusahaan
Freelancer tidak terikat jam kerja, sedangkan karyawan bekerja sesuai aturan perusahaan
Freelancer tidak terikat jam dan tempat kerja. Artinya, kamu bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. Tapi, ingat! Setiap proyek memiliki deadline. Semakin pintar kamu mengelola waktu, semakin banyak pula waktu yang bisa dialokasikan untuk kehidupan pribadi. Adapun karyawan harus bekerja sesuai aturan perusahaan.

4. Freelancer Menyediakan Semua Fasilitas Kerja dengan Dana Pribadi, sedangkan Semua Fasilitas Karyawan Sudah Disediakan oleh Kantor

Freelancer tentu memerlukan fasilitas dalam bekerja. Tapi, freelancer harus menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan dengan dana pribadi, seperti menyediakan komputer, koneksi internet, listrik, hingga transportasi. Adapun karyawan biasanya terima kerja karena semua fasilitas sudah disediakan kantor, kendati terkadang kelengkapannya kurang.

5. Freelancer adalah Bos bagi Dirinya Sendiri, sedangkan Karyawan Perlu Memanajemeni Diri Sendiri demi Mencapai Sukses Karier yang Gemilang

Sebagai freelancer, kamu adalah bos bagi dirimu sendiri. Kamu perlu memanajemeni dirimu demi mencapai sukses gemilang. Hati-hati dengan godaan rasa malas dan kantuk! Kamu harus bisa mengatasinya dan membangun sistem dan budaya kerja yang baik. Adapun karyawan mempunyai atasan banyak. Jadi, mentalmu harus kuat.

2 komentar

Agan freelancer atau karyawan gan?
Jadi freelancer memang lebih berat, tapi kalau udah dipercaya dan punya otoritas pasti makjleb enaknya kwkwkkw...
BTW, kalau saya boleh brsaran itu awal kata judul pake huruf kapital gan..

Terima kasih brother masukannya malum baru bisa ngblog asal nulis aja hehehehe


EmoticonEmoticon