Sunday, May 28, 2017

Hubungan antara Iman dan Cinta


Apa hubungan antara iman dan cinta? Iman itu menumbuhkan cinta. Iman yang ada di dalam dada menentukan apa yang kita cintai, siapa saja yang kita cintai, dan juga bagaimana cara kita mencintai mereka.

Orang yang mencintai Allah, akan mencintai orang-orang yang Allah cintai dan mencintai mereka dengan cara yang Allah ridai. Yang utama tentu adalah mencintai Allah dan rasul-Nya dibandingkan yang lainnya.

Itulah sebabnya, dalam mendidik anak-anak, yang penting adalah menumbuhkan iman. Ceritakan kepada anak dengan kisah-kisah yang membuatnya cinta kepada Rabb-nya. Ajak anak untuk mendekat kepada Rabb-nya dengan cara yang baik, dengan begitu ia akan belajar mencintai Allah.

Begitu pula saat mengajak anak shalat, ajak anak dengan cara yang baik. Shalat merupakan ibadah wajib yang mendekatkan anak kepada Allah, kita perlu mengajaknya dengan cara yang menyenangkan di hati anak. Dengan begitu iman yang ada di dalam dada anak tidak rusak oleh cara kita mengajak anak yang tidak baik.

Shalat adalah kewajiban, terutama untuk seorang ayah yang diwajibkan shalat di masjid. Seorang sahabat Nabi yang buta pernah datang ke Rasulullah saw dan berkata,

‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilan itu)’. (HR. Muslim)

Jika seorang laki-laki buta saja tetap diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk shalat di masjid, bagaimana dengan mereka yang tidak buta?

Di saat kita mempunyai sebuah keinginan, otak kita akan memproses hal tersebut dan mencari cara bagaimana caranya supaya berhasil. Saat kita merasa malas untuk sholat, otak kita akan memproses dan mencari 1001 alasan supaya kita tidak bisa sholat. Misalnya adalah kesibukan, macet, ada keperluan mendadak, menunda-nunda, dan semacamnya.

Padahal, tidakkah kita ingat bahwa Allah pernah berfirman di dalam kitabnya,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah:286)

Oleh karena itu. Anda memiliki dua pilihan:
  1. Apakah kita percaya kepada Allah bahwa kita mampu melaksanakan shalat atau
  2. Kita percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita terlalu sibuk untuk melaksanakan shalat.
Manakah yang kita pilih.


EmoticonEmoticon