Friday, February 10, 2017

Mendengar Adzan Mari Lakukan Shalat

Wahai Rosulullah sesungguhnya aku tidak memilki seorang penuntun pun yang bisa mengajakku ke masjid.’ Dan dia meminta kepada Rasulullah saw agar memberikannya rukhshoh (keringanan) agar dirinya sholat di rumah maka kemudian Rasulullah pun memberikan rukhshoh kepadanya. Namun ketika orang itu membalikkan badannya Rasulullah saw memanggilnya dan berkata,”Apakah engkau mendengar panggilan (adzan) untuk sholat? dia menjawab,’ya’, Beliau saw berkata,’Sambutlah”. (HR. Muslim)

Di situ kita melihat sesuatu yang unik. Jika seorang yang buta saja diperintahkan nabi untuk segera shalat ketika mendengar adzan, bagaimana dengan orang yang tidak buta? Tentu lebih perlu lagi.

Bagaimana kebiasaan nabi? Aisyah mengisahkannya kepada kita. Pada suatu hari ada seorang sahabat bertanya kepada Aisyah apa yang Nabi lakukan saat di rumah. Aisyah menjawab,
“Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan istrinya, dan jika beliau mendengar adzan, beliau segera keluar (untuk pergi menuju masjid)” (HR. Bukhari 4944)

Jadi, wahai ayah-bunda, beliau memiliki kebiasaan untuk segera pergi ke masjid untuk shalat wajib setelah mendengar adzan. Bukankah ini teladan yang sangat baik?

Namun, Ayah-bunda, di zaman modern ini, kita semua tahu bahwa pekerjaan begitu menyita waktu kita dan kehidupan terasa bergerak begitu cepat. Apalagi jika kita tinggal di kota besar, kemacetan menjadi makanan sehari-hari. Kadang-kadang, itu membuat kita lalai dalam bergegas pergi shalat setelah mendengar adzan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Yuk kita siasati, ayah-bunda. Undurlah waktu meeting dan rapat setelah shalat, tundalah pekerjaan apapun yang sedang kita lakukan untuk pergi menuju masjid. Jika takut terjebak kemacetan, kita bisa menyiasatinya dengan tiga hal. Pertama, kita memundurkan atau memajukan waktu pulang kita. Kedua, kita bisa berhenti di masjid yang terdekat dengan posisi kita saat adzan berkumandang. Ketiga, kita bisa shalat di kendaraan.

Ayah-bunda, sebenarnya tidak ada konsep “sibuk”. Yang ada adalah konsep “prioritas”. Saat ayah-bunda menunda sebuah kegiatan, sebenarnya ayah-bunda bukan sedang sibuk, melainkan ayah-bunda menganggap kegiatan itu tidak penting. Sesuatu yang kita anggap penting pasti akan kita prioritaskan.

Setelah ayah-bunda sudah mulai membiasakan diri segera shalat setelah mendengar adzan, jangan lupa ajarkan kepada anak kita masing-masing ya untuk melakukan hal yang sama? Coba bayangkan saat anak kita sudah besar dan sedang berkumpul dengan teman-temannya. Saat mendengar adzan, ia segera shalat. Ketika temannya bertanya kenapa ia begitu, ia akan menjawab, “Oh, ini berkat ayah-bunda gue. Dulu mereka ngajarin gue untuk segera shalat saat dengar adzan.” Bagaimana perasaan ayah-bunda? 


EmoticonEmoticon