Jumat, 27 Januari 2017

Senyum Kepada Teman, Cemberut Kepada Keluarga?






Ada seorang lelaki yang tertawa dan tersenyum lebar kepada teman-teman kerjanya. Ia humoris dan ramah. Namun, ketika ia pulang ke rumah, tiba-tiba ia berubah menjadi pendiam. Bahkan, wajahnya berubah menjadi asam dan tidak mengenakkan. Saat istrinya mengajaknya bicara, ia membentak istrinya dengan ketus,

“Apaan sih, saya lagi sibuk. Jangan ganggu!”

Pernah melihat orang yang seperti itu? Atau jangan-jangan, orang tersebut adalah kita?
Untuk mengetahui akhlak seseorang, janganlah terbuai oleh penampilan luar seseorang. Hakikat akhlak seseorang yang sebenarnya adalah akhlak dia ketika berada di dalam rumah bersama keluarganya. Sebab, ia tinggal dan melewati hidup bersama keluarganya. Ia tidak akan sanggup berpura-pura.

Baca Juga Mengapa Senyum Kepada Keluarga Pahalanya Sangat Besar

Nabi saw bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR Tirmidzi no.1162. Al-Albani berkata bahwa ini shahih)
Imam Asy-Syaukani dalam bukunya Nailul Authar jilid 6 halaman 245-256 menjelaskan hadist ini kira-kira sebagai berikut,

“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.

Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Dari hadist itu juga para ulama membuat sebuah prinsip tentang akhlak. Prinsip itu adalah sebagai berikut:
“Bahwa hakikat (akhlaq) seseorang lebih banyak diketahui di dalam rumahnya daripada di luar rumahnya”.

Baca Juga : Suami Wajib Belajar tentang Kepemimpinan dalam rumah tangga

Ustadz Firanda Andirja pernah menulis, “Banyak istri yang lebih membutuhkan sedekah senyuman dan kata-kata lembut suaminya dari pada sedekah hartanya. Senyum pada istri pahalanya lebih besar daripada senyum pada kawan, tapi terkadang yang lebih sering dilakukan dan diutamakan sebagian orang adalah sebaliknya.”

Image : Pixabay

Artikel Terkait

Senyum Kepada Teman, Cemberut Kepada Keluarga?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email