Wednesday, January 25, 2017

Mengapa Senyum Kepada Keluarga


Dalam Islam, akhlak menempati kedudukan yang tinggi. Bahkan, ia adalah salah satu dari dua syarat yang harus dipertimbangkan orangtua seorang wanita saat ia akan menikahkan anak gadisnya. Nabi bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan). Mengapa nabi membedakan antara agama dan akhlak? Sebab, bisa jadi seseorang memahami agama, tapi ia tidak mempraktekkan ilmu agama yang ia miliki itu kepada masyarakat. Ia tetap saja orang yang suka mencuri, ingkar janji, dan kasar. Akibatnya, orang-orang malah tidak menyukainya.

Bagi seorang muslim, salah satu akhlak yang mudah dilakukan tetapi dianjurkan adalah tersenyum. Senyuman bukanlah perkara remeh. Sebaliknya, ia sangat penting dan merupakan bagian dari akhlak yang baik. Saat bertemu dengan sahabat-sahabatnya, Rasulullah saw sendiri adalah seseorang yang suka tersenyum. Sahabat Jabir bin Abdullah memberikan kesaksian tentang beliau saw,
Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku” (HR. Bukhari, no.6089). Wah, Rasulullah saw itu luar biasa ya?

Ada seorang lelaki yang tertawa dan tersenyum lebar kepada teman-teman kerjanya. Ia humoris dan ramah. Namun, ketika ia pulang ke rumah, tiba-tiba ia berubah menjadi pendiam. Bahkan, wajahnya berubah menjadi asam dan tidak mengenakkan. Saat istrinya mengajaknya bicara, ia membentak istrinya dengan ketus, “Apaan sih, saya lagi sibuk. Jangan ganggu!” Pernah melihat orang yang seperti itu? Atau jangan-jangan, orang tersebut adalah kita? Untuk mengetahui akhlak seseorang, janganlah terbuai oleh penampilan luar seseorang. Hakikat akhlak seseorang yang sebenarnya adalah akhlak dia ketika berada di dalam rumah bersama keluarganya. Sebab, ia tinggal dan melewati hidup bersama keluarganya. Ia tidak akan sanggup berpura-pura.

Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR Tirmidzi no.1162. Al-Albani berkata bahwa ini shahih)

Imam Asy-Syaukani dalam bukunya Nailul Authar jilid 6 halaman 245-256 menjelaskan hadist ini kira-kira sebagai berikut, “Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.

Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”
Dari hadist itu juga para ulama membuat sebuah prinsip tentang akhlak. Prinsip itu adalah sebagai berikut: “Bahwa hakikat (akhlaq) seseorang lebih banyak diketahui di dalam rumahnya daripada di luar rumahnya”.

Ustadz Firanda Andirja pernah menulis, “Banyak istri yang lebih membutuhkan sedekah senyuman dan kata-kata lembut suaminya dari pada sedekah hartanya. Senyum pada istri pahalanya lebih besar daripada senyum pada kawan, tapi terkadang yang lebih sering dilakukan dan diutamakan sebagian orang adalah sebaliknya.”

Sebab, sedekah yang terbaik adalah sedekah untuk keluarga. Jika tersenyum adalah sedekah, maka senyum yang terbaik adalah senyum untuk keluarga kita. “Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun, dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim). Abu said al-Khudry bercerita kepada kita, “Zainab, istri Abu Mas'ud, bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memerintahkan untuk bersedekah hari ini, dan aku mempunyai perhiasan padaku yang hendak saya sedekahkan, namun Ibnu Mas'ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak untuk aku beri sedekah. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ibnu Mas'ud memang benar, suamimu dan anakmu adalah orang yang lebih berhak untuk engkau beri sedekah" (Riwayat Bukhari).


EmoticonEmoticon